Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan rohani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2008

KUALIFIKASI KEPEMIMPINAN



Di setiap instansi/lembaga atau organisasi, selalu ditetapkan kualifikasi pemimpin yang dikehendaki oleh lembaga atau organisasi tersebut.


1. Kepemimpinan Militer

Angkatan Darat AS misalnya, menetapkan kualifikasi pemimpin militer sebagai berikut: yakin, berani, berintegritas, pengambil keputusan, adil, tabah, taktis, berinisiatif, tenang, dewasa, berkembang, berkemauan keras, assertiveness, candor, punya rasa humor tinggi, berkompeten, berkomitmen, kreatif, disiplin tinggi, rendah hati, fleksibel, berbelas kasihan atau berempati.


2. Kepemimpinan Jawa

Dalam budaya Jawa dikenal beberapa istilah penting berkaitan dengan kualifikasi kepemimpinan.

(a) Ngandel (percaya pada diri sendiri)

(b) Kendel (berani dan tabah)

(c) Bandel (berdaya tahan besar, ulet dan tahan uji)

(d) Kandel (dapat mengatasi segala kesulitan, dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tidak terkalahkan)

Seorang pemimpin juga haruslah seorang yang tetep (konsisten), mantep (konsekuen), dan antep (berbobot, bermutu, dan digdaya).

Ki Hadjar Dewantara menggunakan istilah singkat "neng, ning, nung, nang" yang berarti meneng (tentram dan damai), bening (jernih dan murni), hanung (memiliki kemampuan), dan menang (mampu berdiri tetap).

Sedangkan dari dunia pewayangan dikenal adanya istilah Hasta Brata (Delapan Sifat Pemimpin), yaitu seperti:

(a) tanah (pemurah dan penuh belas kasihan),

(b) air (sederhana dan mau turun ke bawah),

(c) angin (mampu merembes ke mana‑mana),

(d) laut (lapang dada, mau menerima pendapat orang lain),

(e) bulan (menambah ilmu pengetahuan sehingga mampu memberikan penerangan),

(f) matahari (memberi dorongan kekuatan dan pertolongan),

(g) bintang (menjadi penuntun dan panutan)

(h) api (memegang prinsip keadilan)


3. Kepemimpinan Indonesiawi

Selanjutnya dari nilai‑nilai kebudayaan yang mendalam itu dikembangkan pula kualifikasi kepemimpinan yang khas Indonesia, yang dikenal dengan "Sebelas Asas Kepemimpinan Pancasila".

(a) Taqwa ‑ beriman kepada Tuhan yang Maha Esa dan taat kepada‑Nya

(b) Hing Ngarso Sung Tulodo ‑ mampu menjadi teladan

(c) Hing Madyo Mangun Karso ‑ membangun semangat dan ketabahan

(d) Tut Wuri Handayani ‑ mempengaruhi dan memberikan dorongan dari belakang

(e) Waspodo Purbowaseso ‑ selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani memberi koreksi

(f) Ambeg Paramarta ‑ dapat menetapkan skala prioritas

(g) Prasojo - sederhana

(h) Satya ‑ mempunyai sikap loyal

(i) Gemi Nastiti ‑ hemat ‑ "sak butuhe, sak perlune, sak cukupe, sak mestine, sak benere, sak kepenake"

(j) Beloko ‑ terus terang

(k) Legawa ‑ siap untuk proses regenerasi

4. Kualifikasi Kepemimpinan Rohani

Dennis McCallum mengungkapkan dalam situs internetnya tentang apa yang disebut dengan "Pemimpin Rohani" sebagai berikut:

4.1. Seorang Visioner

Banyak pemimpin terbaik memimpin dengan visi. Mereka memperoleh gagasan dan membagikannya kepada yang lain, dengan penuh harapan sambil berinteraksi dengan Allah. Kadang kala gagasan itu merupakan gambaran mental dari suatu masa depan yang mungkin yang didasarkan pada prinsip‑prinsip Alkitab dan digabung dengan imajinasinya. Gagasan inilah yang menggairahkan mereka dan mengisinya dengan hasrat yang membara.

Mereka ingin orang lain melihat apa yang mereka lihat dan menyatakan betapa pentingnya gagasan itu. Seorang pemimpin tidak selalu mengembangkan suatu visi yang baru dan unik, tetapi bisa mengambil dari visi orang lain. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pemimpin yang terbaik tidak selalu merupakan orang yang paling kreatif dalam kelompoknya, meskipun memang kenyataannya kreatif mereka berada di atas rata‑rata.

Apakah visi seorang pemimpin itu asli atau dari orang lain tidaklah begitu penting. Pemimpin yang baik menggunakan banyak cara untuk mengkomunikasikan visi mereka, menggandeng gambaran masa depan dengan realitas masa lalu, dengan menunjukkan bahwa gagasan itu lebih baik dari pada tidak bertindak apa‑apa (status quo). Mereka dapat menjelaskan apa yang terutama dalam visi itu sehingga mereka rela menderita karenanya.

4.2. Seorang Pembelajar

Dalam konteks Kristiani, para pemimpin adalah mereka yang menyisihkan waktu untuk merenungkan pelbagai hal tentang kepemimpinan mereka. Banyak pemimpin besar dalam sejarah Kristiani adalah pembelajar (misalnya Martin Luther, John Calvin, John Wesley, Jonathan Edwards, dll.) Secara umum orang tertarik kepada mereka yang tahu tentang apa yang mereka katakan karena kedalaman pemahaman mereka. Demikian pula, suatu perkara yang telah dipertimbangkan dengan baik ‑ bukan hanya dari sudut pandang apa yang akan memberikan hasil pragmatis, melainkan juga dari sudut pandang implikasi teologis dan keseimbangan menyeluruh teologis dan alkitabiah ‑ biasanya (walaupun tidak selalu) lebih persuasif. Orang Kristen mencari, bukan pemimpin yang dapat menangani urusan mereka sendiri, melainkan mereka yang tahu dan dapat menangani urusan Allah.

Para pemimpin memperoleh kekuatan dan stabilitas dari dalam dari kenyataan bahwa mereka telah merefleksikan pelbagai pengalaman yang panjang dan keras dalam kehidupan pribadi, bergereja, pemahaman Alkitabnya, dan diyakinkan tentang apa yang Allah inginkan.

4.3. Seorang Pemberi Pengaruh

Seseorang disebut pemimpin jika ia mempengaruhi orang lain, baik ke arah yang baik maupun buruk. Kita memimpin orang lain ketika kita menyebabkan mereka mengubah sikap atau perilaku mereka, baik karena mereka melihat keteladanan kita dan mengakuinya, atau karena kita membujuk dengan kata‑kata untuk berubah.

Refleksi yang cermat di hadapan Allah tentang apa yang perlu diubah dari orang‑orang itu, membawa kepada suatu kemampuan besar untuk bisa membujuk. Penerapan dalam persuasi/bujukan dan pembelajaran untuk menunjukkan kepada orang lain tentang apa yang harus mereka raih melalui perubahan merupakan ketrampilan dasar kepemimpinan.


4.4. Seorang Pembangkit Semangat

Biasanya para pemimpin tidak menyarankan sesuatu yang baru atau berbeda dari apa yang telah dilakukan orang lain, tetapi mereka memberikan suatu rasa urgensi, kegairahan, atau semangat terhadap aktifitas itu. Semangat dan kegairahan pemimpin itu sendiri menjadi menular. Orang‑orang dibuat menjadi orang‑orang yang penuh semangat dan penuh gairah ketika mereka sendiri mencari semangat dan kegairahan dalam hidup mereka. Jika kita belajar untuk memperoleh semangat dan kegairahan dalam pikiran kita, kepemimpinan dipastikan menyatakan hal itu dan hasilnya orang-orang juga terpengaruh.

4.5. Seorang Pembangun Tim

Banyak pemimpin efektif dalam membawa orang lain bersama di suatu tim. Biasanya ini merupakan perbedaan antara para pemimpin dengan mereka yang juga mempunyai gagasan yang baik, tetapi tak pernah mempunyai dampak terhadap Tubuh Kristus.

Membawa banyak orang bersama dan menolong mereka mengatasi hambatan pemahaman, ketidaksenangan pribadi, iri hati, dan praduga merupakan pekerjaan utama seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik biasanya berkaitan dengan manajemen konflik dengan hasil penuh damai. Mereka yang mencoba menangani konflik antara orang lain tetapi berhenti mengipasi nyala api konflik atau secara konsisten menyangkal kelompok yang satu atau yang lain dalam konflik, biasanya tidak dapat bertahan lama sebagai pemimpin. Cara lain untuk melihat pembangunan tim adalah bahwa pemimpin adalah seorang pembentuk konsensus atau kesepakatan. Ia mampu menarik lebih dari satu orang untuk setuju tentang nilai‑nilai atau arah gerakan tertentu.

4.6. Seorang Yang Rela Menderita

Seorang yang memimpin selalu menderita, sama seperti yang lain, dan kadang lebih dari orang lain. Perbedaannya adalah bahwa para pemimpin dapat menderita dengan anugerah dan bahkan dengan penuh ucapan syukur. Mereka tetap berfokus dan berfungsi selama masa penderitaan dan tidak kehilangan keyakinan dalam prinsip sebanyak yang orang lain bisa lakukan.

Para pemimpin tahu bagaimana menghindari hanya berfokus pada penderitaan mereka sendiri sekalipun dalam masa yang sulit. Mereka tetap dapat berkonsentrasi secara rohani sepanjang masa itu. Orang mengakui heroisme dari mereka yang mau menderita tanpa kehilangan keyakinan mereka kepada Allah atau komitmen mereka kepada yang lain. Mereka akan tercengang sejenak bagaimana memperoleh kemampuan semacam itu bagi diri mereka sendiri dan menjadi berniat mengikuti sang pemimpin. Para pemimpin yang kehilangan kesabaran terlalu sering atau terlalu lengkap ketika penderitaan berlangsung biasanya mempengaruhi orang yang mereka pimpin.


4.7. Seorang Pejuang

Para pemimpin harus memerangi kecenderungan negatif atau keyakinan yang keliru yang berkembang di dalam kelompoknya. Pemimpin yang baik dengan cermat merenungkan di hadapan Allah tentang faktor apa saja yang mendorong kecenderungan atau pandangan negatif di kalangan para sahabatnya tersebut; dan mengurangi sikap‑sikap kontra‑produktif. Para pemimpin tahu bahwa Setan melancarkan serangan atas kehidupan kelompok Kristiani yang menghasilkan buah. Dari sini dapat disimpulkan beberapa hal penting :

(a) Para individu dalam kelompok bukan sumber pikiran dan tindakan yang keliru sebab "kita bukan berperang melawan darah dan daging" (Efs. 6:12). Oleh sebab itu para ahli propaganda yang keliru sekalipun, dapat dan sering ditolong dan diselamatkan dari kebodohan mereka sendiri. Carilah pemimpin yang baik yang bisa bekerja sama dengan mereka yang dulunya hidup dalam dosa di masa lalu dan yang sebelumnya menentang mereka. Tentu saja pemimpin terbaik pun akan kehilangan mereka yang tetap hidup di dalam dosa, dan pemimpin yang baik akan rela mengalami kehilangan semacam itu dari pada bersikap lunak atas standar Allah.

(b) Dengan mengantisipasi serangan rohani, membawa kita pada kewaspadaan dan kehati‑hatian (1 Pet. 5:8). Para pemimpin tidak selalu merupakan orang pertama yang mengenali adanya masalah, tetapi mereka memperhatikan masalah itu.

(c) Para pemimpin tahu bahwa mereka harus bertempur dalam doa dan membawa rekan lainnya untuk dekat dengan Tuhan (Roma 15:30).

4.8. Seorang Penolong dan Pemberi ‑ Neh. 5:l8b

Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin rohani adalah seorang pelayan (Mark. 10:43,44). Orang akan tertarik kepada mereka yang melayani mereka dan menolong mereka di masa lalu, dan akan selalu mengikuti nasihatnya. Pemimpin tidak akan pernah merasa mereka mampu memenuhi seluruh kebutuhan dalam gereja, tetapi dengan teratur rela melayani dan memberikan yang terbaik. Orang akan menghindari mereka yang hanya berada di awan‑awan dan menganggap diri terlalu penting untuk pekerjaan biasa. Pemimpin yang semacam itu mengabaikan pengaruh.

4.9. Seorang Yang Berintegritas ‑ Yoh. 6:66, 69

Secara teratur ada pemimpin yang dipacu oleh lingkungan, oleh Setan, dan oleh bawahannya sendiri. Semua pemimpin yang baik menyatakan bahwa mereka dapat mengatasi itu semua tanpa kehilangan tujuan. Orang tertarik kepada karakter yang kuat, dan cenderung percaya kepada apa yang dikuatkan orang yang kuat. Meskipun mereka bersimpati dengan mereka yang lemah, tetapi tidak akan pernah mengikutinya. Ini bukan berarti para pemimpin harus menghindari penderitaan, tetapi justru di tengah penderitaan tetap memiliki integritas. Bahkan sekali pun tak ada seorang pun yang mau mengikutinya, ia tetap mengarah pada tujuan yang benar dan hidup bagi Allah.

Pemimpin yang baik tidak takut ditolak oleh pengikutnya karena ia menekankan kepada apa yang benar, bukan kepada ada tidaknya pengikut. Yesus mengajarkan bahwa Gembala Yang Baik "berjalan di depan mereka" yang berarti bahwa sang gembala, menetapkan sesuatu dulu baru diikuti oleh domba‑dombanya. Ketika orang tahu bahwa sang pemimpin lebih mencari pengikut dari pada melakukan apa yang Allah inginkan, mereka menjadi sinis. Bahkan mereka akan menguji pemimpin mereka dengan tidak mengikuti mereka. Hanya jika mereka melihat bahwa sang pemimpin tidak bisa dimanipulasi, barulah mereka memilih untuk mengikutinya.

4.10. Seorang yang Stabil

Pemimpin yang baik pada umumnya stabil selama bertahun‑tahun. Pemimpin yang buruk secara periodik berpaling secara radikal ke arah yang ber­beda, sementara pemimpin yang baik berpijak teguh pada nilai dan keyakinan utamanya. Inovasi mengambil bentuk penemuan cara‑cara baru dan berbeda untuk mencapai tujuan lama yang tak berubah selama puluhan tahun dalam kehidupan pemimpin. Bentuk umum ketidakstabilan lainnya adalah penghen­tian dari pekerjaan. Pemimpin yang tak stabil meninggalkan pekerjaan karena pelbagai alasan, sedangkan pemimpin yang baik tetap setia dari waktu ke waktu. Banyak yang pada awalnya menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang alami tetapi berakhir menjadi pemimpin yang buruk karena beberapa kesalahan dalam hidupnya, sementara yang lain yang pada mulanya nampak biasa tetapi berakhir dengan menjadi pemimpin yang dihormati dan efektif karena fokus mereka pada prinsip rohani yang paling mendasar.

Pada saat krisis, orang cenderung jatuh dan panik, dan kadang menghasilkan penyelesaian radikal yang bersifat menghancurkan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang tetap tegak di masa krisis dan kokoh, pada dasar kebenaran. Orang tertarik pada kestabilan dan reliabilitas, yang dengan benar dapat menyatakan bahwa reliabilitas semacam itu merupakan hasil visi yang jelas akan jalan Tuhan.

4.11. Seorang Yang Mampu Bertenggang‑rasa

Ironisnya, pemimpin yang baik juga adalah seorang yang bisa bertenggang‑rasa. Kemantapan dan kegigihan itu penting, tetapi perfeksionisme itu bertentangan dengan kepemimpinan yang efektif. Kita hidup dalam dunia yang berdosa dimana visi kita tidak pernah benar‑benar terpenuhi, Orang tak pernah berhenti melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, dan kehidupan selalu memberikan kepada kita hal‑hal yang tak diharapkan. Hasilnya, para pemimpin menyadari bahwa mereka harus sedapat mungkin mencapai yang terbaik, tetapi tidak mengharapkan kesempurnaan atau kesepakatan yang tuntas.

Pemimpin yang bijaksana sadar bahwa semakin mereka dekat dengan tujuan, makin baik, dan adanya sedikit gerakan lebih baik dari pada tidak ada gerakan sama sekali. Mereka juga menyadari bahwa seorang pengikut bisa, sangat sedikit atau punya pandangan yang berbeda, bahkan pada hal‑hal yang amat penting. Para pemimpin juga menyadari bahwa mereka harus memprioritaskan tujuan dan merasa baik ketika tujuan utama tetap dipegang sementara tujuan yang kurang utama tidak. Para pemimpin yang gagal meletakkan prioritas, atau mereka yang perfeksionis, menghadapi bahaya menghancurkan diri mereka sendiri dan orang yang ada di sekitarnya. Mereka buruk dalam membangun tim, dan tidak dapat bernegosiasi secara efektif. Pada akhirnya, mereka selalu akan kehilangan pengikut.

4.12. Seorang yang Membangun Semangat

Memang bisa memimpin tanpa membangun semangat, tetapi pemimpin yang baik menggunakan sarana rohani yang penting ini. Alkitab mengajarkan agar kita saling membangun, dan pemimpin harus menunjukkan hal ini (1 Tes. 5:11). Para pemimpin adalah mereka yang dapat membangun semangat dan memulihkan kepercayaan dan antusiasme kelompok orang yang patah hati dan depresi. Pemimpin yang baik secara tetap mengingatkan orang akan nilai mereka, akan kasih Allah, akan janji Firman Tuhan, dan bahwa kegagalan bukan berarti kiamat. Karena para pengikut sering kali gagal, peran pembangun semangat, yang secara eksklusif tidak dimiliki pemimpin, sangat penting bagi kemampuan pemimpin untuk menjaga moral. Penguatan yang datang dari seorang pemimpin memberikan dampak yang lebih dibandingkan yang datang dari orang lain.

petrus f. setiadarma


Kamis, 14 Februari 2008

Spiritualias Kristen Di Dalam Tugas Kepemimpinan:



Pendahuluan

Setiap kali orang berbicara tentang gereja, selalu diasosiasikan dengan kerohanian (spiritualitas!). Gereja dipandang sebagai pusat dan gudang hal-hal yang berbau spiritualitas. Gereja dipandang identik dengan spiritualitas. Karena itu, pemimpin dalam kejemaatan dipandang sebagai figur yang "sangat rohani". Di satu sisi pandangan ini amat positif dalam arti bahwa pelbagai problema kehidupan yang dihadapi jemaat bisa mendapatkan solusinya melalui konseling dengan para pemimpin jemaat yang dipandang lebih rohani dari padanya. Namun di sisi yang lain pandangan ini membuat jemaat amat bergantung kepada pemimpin tersebut, mudah disesatkan, dan segera menjadi kecewa lalu meninggalkan persekutuan, ketika sang pemimpin melakukan kekeliruan. kesalahan atau dosa.

Sebaliknya, orang juga beranggapan bahwa tindakan-tindakan spiritualitas hanya bisa dilakukan dalam lingkup gereja (baca: gedung gereja!). Pelbagai kegiatan yang ada di luar lingkup gereja bersifat profan dan sekuler! Pandangan yang lebih sempit lagi: kegiatan spiritualitas hanya dilakukan dalam ibadah raya di hari Minggu, sedangkan di luar hari itu tidak bisa disebut sebagai kegiatan spiritualitas.

Tulisan ini dibuat guna meletakkan spiritualitas kepemimpinan jemaat pada proporsi yang sebenarnya, agar kita dapat membimbing jemaat sehingga mereka memiliki pandangan yang sehat terhadap pemimpin jemaat.

Pengertian Spiritualitas Kristen

Apakah "Spiritualitas Kristen" itu? Istilah "Spiritualitas Kristen" menunjuk kepada dua hal: sebuah pengalaman hidup dan suatu disiplin ilmu akademis. Sebagai sebuah pengalaman hidup istilah ini mengacu pada keseluruhan hidup Kristiani yang berorientasi pada pengetahuan transenden, kebebasan, dan kasih dalam nilai-nilai dan gagasan luhur yang diterima dan digumuli dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus dalam gereja-Nya sebagai persekutuan orang-orang percaya.

Menurut Michael Downey1, spiritualitas ini berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman hidup Kristiani, khususnya persepsi dan upaya mencapai gagasan atau tujuan tertinggi hidup Kristiani, yaitu suatu kesatuan yang lebih intensif dengan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus melalui kehidupan dalam Roh.

Dalam upayanya menggali metode guna memahami Spiritualitas Kristen ini, Downey menyatakan 2

In charting the terrain of Christian spirituality it may be helpful to identify seven focal points of investigation. From this vantage point, Christian spirituality is concerned with the work of the Holy Spirit (in itself a rather slippery term!) in persons:

1) within a culture; 2) in relation to a tradition; 3) in light of contemporary events, hopes, suffering and promises; 4) in remembrance of Jesus Christ; 5) in efforts to combine elements of action and contemplation; 6) with respect to charism and community; 7) as expressed and authenticated in praxis.

Dari sini kita melihat bahwa Spiritualitas Kristen memiliki beberapa keunikan dibandingkan spiritualitas pada umumnya.

Pertama, adalah adanya Pribadi Ilahi, yaitu Roh Kudus yang menjadi Penolong bagi kita (Yoh 14:16-17). la adalah suatu Pribadi yang memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak bagi gereja-Nya. Dengan adanya Roh Kudus yang membimbing orang percaya kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), maka Spiritualitas Kristen bukan upaya pencarian dalam ketidak-pastian dan menjemukan, melainkan suatu bentuk ketaatan dalam kepastian dan menggairahkan. Roh Kuduslah yang akan menyatakan kepada kita apa yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor 2.10).

Kedua, gereja ditempatkan di tengah-tengah dunia yang memiliki beragam budaya. Bentuk-bentuk Spiritualitas Kristen tidak dideterminasi oleh gereja tertentu dari budaya tertentu, melainkan bersifat kontekstual dengan budaya di mana orang percaya berada.

Ketiga, karena gereja memiliki latar belakang sejarah yang begitu kuat, maka Spiritualitas Kristen tidak bisa dilepaskan dari sejarah. Namun demikian bukanlah sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman, melainkan juga tetap mengikuti arah perkembangan yang ada secara selektif.

Keempat, pusat Spiritualitas Kristen adalah Pribadi Yesus Kristus itu sendiri. Karena oleh Dialah kita dapat mengenal dan tiba kepada Allah (Yoh 14-8).

Kelima, Spiritualitas Kristen bukan hanya bersifat vertikal yaitu berfokus hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga bersifat horizontal yaitu dalam hubungannya juga dengan manusia. Ibadah umat Tuhan dalam Perjanjian Lama terus menerus dikoreksi oleh para nabi, agar mereka menyeimbangkan kedua hal ini ( Yes 58). Dasatitah yang disempumakan oleh Yesus dengan Hukum Kasih juga menyangkut dua aspek ini (Mat 22:37,39).

Dalam keunikan Spiritualitas Kristen inilah vitalitas kepemimpinan dalam penatalayanan jemaat diuji.

Kepemimpinan Jemaat

Penulis melihat setidaknya ada 3 (tiga) ciri penting dalam spiritualitas pemimpin jemaat.

(1) Kepemimpinan yang berdasar kepada Alkitab – keputusan

Jemaat yang tinggal di tengah-tengah masyarakat plural ini diutus oleh Yesus Kristus sendiri "seperti domba di tengah-tengah serigala." Jemaat harus "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." (Mat 10:16). Untuk bisa menjadi cerdik dan tulus, tentunya dalam mengambil keputusan jemaat membutuhkan acuan atau standar yang ditetapkan Allah sendiri agar setiap keputusan yang diambil tidak keliru.

Spiritualitas pemimpin jemaat pada bagian ini nampak dari sejauh mana ia melakukan tugasnya untuk selalu mengarahkan jemaat agar hidup di dalam kebenaran firman Allah, yaitu Alkitab. Tentunya pemimpin itu sendiri mau hidup di dalam kebenaran firman Tuhan. Ia memiliki waktu khusus untuk belajar firman Allah, belajar hidup sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya, dan mengajarkannya kepada jemaat (Ezra 7:10).

Institusi pendidikan teologia (baca: STT Abdiel) akan membimbing para calon pemimpin jemaat (rohaniwan) untuk menjadikan Alkitab sebagai narasumber utama dari apapun yang dipelajari dalam institusi tersebut. Pemazmur berkata bahwa firman Tuhan mampu menjadikan seseorang lebih bijaksana, lebih berakal budi, dan lebih mengerti (Maz 119:97-100).

Setiap pemimpin jemaat harus mampu berapologia ketika otoritas Alkitab digoncang sebagaimana akhir-akhir ini bermunculan buku-buku yang membahas Injil gnostik, seperti The Gospel of Judas, The Lost Gospel, dan sebagainya. Itu berarti bahwa setiap pemimpin jemaat harus mau terus-menerus belajar teologia dan pelayanan praktis lainnya.

Setiap pemimpin jemaat juga harus meyakini kuasa firman Tuhan yang mengubah dan memperbaharui kehidupan setiap orang yang percaya, sebagaimana yang Paulus katakan kepada Timotius (2 Tim. 3:15-17). Bahkan, Immanuel Kant, filsuf ternama yang tidak menganut agama ortodok apa pun, berkata: "Keberadaan Alkitab sebagai kitab untuk manusia merupakan hikmah paling besar yang umat manusia pernah bisa alami."3

(2) Kepemimpinan yang berpusat kepada Kristus - karakter

Spiritualitas berikutnya adalah dalam pembentukan karakter (character building). Allah telah menyediakan bagi umat-Nya sebuah keteladanan dalam pribadi Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus. Setiap pemimpin jemaat harus hidup seperti Kristus telah hidup, dan mampu membimbing jemaat untuk memiliki kehidupan Kristus di dalam dirinya (1 Yoh 2:6).

Sebagai contoh, seorang motivator di bidang bisnis dan manajemen sekaliber A.B. Susanto saja, melalui buku-buku yang ditulisnya, mampu memotivasi para pelaku bisnis dan manajemen untuk meneladani kehidupan Yesus dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Dalam sambutannya terhadap salah satu buku tersebut, A.A. Yewangoe menyatakan4

Mengikuti teladan Yesus, sebagaimana terungkap baik dalam ucapan-ucapan-Nya, maupun dalam perilaku-Nya tidak bisa dilakukan dengan setengah-setengah. Dengan kata lain, hal mengikuti keteladanan itu mesti terasa dan terlihat dalam kegiatan-kegiatan apa pun yang dilakukan oleh para pengikut-Nya.

Adalah sesuatu yang janggal apabila para pemimpin jemaat tidak lagi mau meneladani Yesus Kristus dan beralih mencari figur lain, sementara para sosok pribadi yang mendorongnya mengadakan perubahan dan pembaharuan bagi negaranya dengan cara seperti cara Kristus. D. James Kennedy menulis5

Waktu Yesus Kristus memutuskan untuk muncul dalam bentuk manusia, Ia mengilhami umat manusia dengan harkat dan nilai inheren yang belum pernah diimpikan sebelumnya. Apa pun yang disentuh Yesus atau apa pun yang dilakukan-Nya mengubah aspek kehidupan manusia. Banyak orang akan membaca mengenai banyak sekali insiden kecil dalam kehidupan Kristus sementara tidak pernah memimpikan bahwa hal-hal kecil yang diucapkan sepintas lain itu akan mengubah sejarah umat manusia.

Ketika para pemimpin jemaat gagal untuk meneladani Kristus - bukan karena tidak mampu, tetapi tidak mau - maka cepat atau lambat, pelayanannya akan kering dan gersang. Memiliki karakter seperti Kristus mutlak dibutuhkan dalam pelayanan. Karakter seperti yang dicirikan dalam sifat-sifat buah Roh (Gal 5:22-23) harus nampak dalam perkataan dan tindakan para pemimpin jemaat.

(3) Kepemimpinan yang digerakkan oleh Roh Kudus - kharisma

Peristiwa Pentakosta dalam Kisah 2 merupakan suatu bukti penggenapan janji Tuhan Yesus Kristus sendiri bahwa para murid (pemimpin rohani) akan menerima kuasa (dunamiV) yang memampukan mereka menjadi pemimpin yang efektif. Sebenarnya sebelum peristiwa itu Yesus juga telah memberi mereka kuasa dan tenaga (power and authority) untuk dapat melayani seefektif mungkin. Terlebih karena dalam spiritualitas Kristiani dikenal adanya musuh rohani. yaitu Iblis dan setan-setan, maka kemenangan hanya bisa diperoleh jika seluruh jemaat hidup dalam kepenuhan Roh Kudus.

Terlebih bagi kita yang melayani di lingkup Gereja Isa Almasih yang secara historis merupakan gereja beraliran pentakosta (dengan nama asal Sing Ling Kauw Hwee - Sidang Roh Kudus), maka kehidupan dan pelayanan yang dipimpin oleh Roh Kudus - sesuai dengan Pengakuan Iman Gereja Isa Almasih - bukan sesuatu yang baru.

Selain dari buah Roh yang dihasilkan sebagai karakter pemimpin jemaat, maka spiritualitas juga dapat dilihat dari kharisma yaitu pemberdayaan karunia dan talenta yang telah dikaruniakan Roh Kudus ... seperti yang dikehendaki-Nya (1 Kor. 12:11) dan ... sesuai dengan kemampuannya (Mat 25: ).

Jemaat dan masyarakat di sekitar gereja tetap menantikan kehadiran Tuhan dan kuasa-Nya melalui pelayanan para pelayanan-Nya. Pelbagai karunia dalam 1 Korintus 12, Roma 12, Efesus 4 dan yang lainnya harus mendapat tempat yang seluas-luasnya secara seimbang dalam pelayanan. Karunia nubuat, kesembuhan ilahi, dan mengadakan mukjizat dibutuhkan, tetapi karunia mengajar juga dibutuhkan, agar jemaat memahami makna nubuat, kesembuhan ilahi, dan mukjizat dengan benar.

Stephen Tong dengan tegas menyatakan beberapa karya Roh Kudus dalam gereja, yaitu karya pengudusan, karya kesaksian Kristus, karya pengaktifan fungsi rasio, karya mempertobatkan manusia, dan karya memimpin pada kebenaran.6 Itu berarti bahwa karya Roh Kudus sama sekali tidak bisa diabaikan dalam dinamika pelayanan gereja Tuhan.

Di samping ketiga ciri spiritualitas pemimpin di atas, Henri J.M. Nouwen7 menyatakan bahwa seorang pemimpin (baca: pelayan) gerejawi haruslah seorang yang memenuhi ketiga syarat berikut: mampu mengartikulasikan peristiwa-peristiwa batin, bela-rasa, dan seorang kontemplatif. Ia memberi penjelasan bahwa yang dimaksud dengan komtemplatif di sini bukan cara hidup di belakang tembok dengan kontak yang sangat terbatas dengan dunia yang bergerak sangat cepat ini, melainkan kontemplatif yang sangat aktif yang bercorak evokatif. Menurut Nouwen,8

Seorang pemimpin yang kontemplatif akan mampu mengarahkan pandangan orang yang ingin melihat lebih jauh ketimbang dorongan-dorongan naluri, dan mengarahkan tenaga yang tidak teratur ke dalam saluran-saluran yang kreatif.

Seorang pemimpin kontemplatif juga adalah seorang "revolusioner" dalam arti yang paling asli, yaitu menjalankan fungsi kenabiannya sehingga mampu mengubah jalannya sejarah (history maker), membebaskan orang dari keresahan dan kecemasannya dan mengarahkannya kepada tindakan-tindakan kreatif yang akan membangun dunia yang lebih baik.

Ia akan melihat secara kritis semua yang terjadi dan mengambil keputusan berdasarkan kesadaran akan panggilannya, bukan karena ingin ternama serta bukan karena takut ditolak

la akan mengajukan kritik kepada kelompok poates, tetapi juga kepada orang-orang yang hanya mau tenang-tenang, kalau alasan-alasan mcreka keliru dan tujuan mereka tidak jelas.

Spiritualitas kepemimpinan dalam pelayanan jemaat bukan hanya nampak dalam diri pribadi sang pemimpin, melainkan juga pada fungsi-fungsi gereja yang ditanganinya.

Spiritualitas dalam Fungsi-fungsi Gereja

(1) Fungsi Koinonia - Persekutuan

Yang dimaksud dengan persekutuan di sini bukan sekedar beribadah bersama, tetapi di antara jemaat ada komunikasi dan interaksi satu sama lain. Dalam era munculnya mega church seperti yang penulis lihat dewasa ini, maka interaksi antar jemaat menjadi berkurang, sehingga perlu dibentuk kelompok-kelompok kecil (dalam lingkup GIA disebut KPK - Kelompok Persekutuan Keluarga), yang memiliki basis Alkitabiah amat kuat, yaitu meneladani gereja mula-mula (Kisah 2:41-47).

Bahkan, menurut John Stott, pengertian Alkitabiah tentang Koinonia lebih dalam lagi, yaitu memiliki tiga bentuk:9

(a) apa yang kita bagikan bersama. warisan Kristen milik kita bersama, yaitu iman, keselamatan, dan kasih karunia Allah;

(b) apa yang kita bagikan keluar bersama-sama apa yang dilakukan bersama, kebersamaan dalam pelayanan;

(c) apa yang kita bagikan satu dengan yang lainnya, dan bentuk tindakan kasih dan perbuatan baik.

Dalam fungsi Koinonia ini. spiritualitas nampak dalam relasi timbal baik antara sesama saudara seiman.

(2) Fungsi Marturia - Kesaksian

Spiritualitas juga harus nampak dalam kesaksian gereja ke dunia yang ada di sekitarnya secara kontekstual, berupa pemberitaan Injil dan perbuatan baik yang menyertainya sebagaimana Yesus Kristus sendiri telah melakukannya (Luk 4:18-19).

Di sini spiritualitas kepemimpinan nampak dalam menangkap hati Allah, yaitu hati misi, yang menginginkan agar semua orang berbalik dan bertobat (2 Pet 3:9).

John Stott menyatakan agar para pemimpin jemaat menaruh perhatian pada bagaimana melengkapi kaum awam (baca: kawan sekerja Allah) guna tugas kesaksian ini sesuai dengan Efesus 4:11-12. ia mengutip Dr. Trueblood bahwa tugas pemimpin jemaat adalah,10

"Mengamati kemampuan yang masih terpendam, dan menggalinya keluar, serta mengaktifkan segalapotensi di dalam kehidupan utnat manusia – inilah tugas menemukan diri sendiri. "

(3) Fungsi Diakonia - Pelayanan

Spiritualitas kepemimpinan dilihat dari sejauh mana mereka mau turun melayani. Bahkan demi memberikan teladan kepada semua orang percaya. Yesus Kristus rela membasuh kaki murid-nurid-Nya (Yoh 13:12-15).

Sejak gereja purba, fungsi pelayanan (diakonia) sudah nampak jelas, baik sasarannya maupun mereka yang melayaninya (Kisah 6:1-7). Di dalam gereja Tuhan selalu saja ada orang yang perlu dilayani. Oleh sebab itu semuanya harus diatur dan diorganisasi sedemikian rupa sehingga baik pelayanan doa dan pemberitaan firman, maupun pelayanan diakonia dapat tertangani dengan baik.

(4) Fungsi Didaskalia - Pengajaran

Terhadap ketiga fungsi sebelumnya, seluruh jemaat harus memperoleh pemahaman yang benar melalui pembinaan, pengajaran, pelatihan, dan pemuridan. Dalam fungsi pembinaan (didaskalia) ini semua kebenaran firman Tuhan diajarkan secara seimbang, yaitu secara dogmatis dan praktis.

Darrel W. Ribinson mengatakan, bahwa melalui pelayanan kawan sekerja Allah yang telah diperlengkapi itu, gereja dibangun dalam dua hal.

Pertama, dalam hal kedewasaan. Gereja bertumbuh sampai pada tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

Kedua, gereja dibangun dalam hal jumlah. Melalui pelayanan kawan sekerja Allah ini. orang-orang dibimbing kepada Kristus. Mereka kemudian bergabung ke dalam gereja sehingga jumlah anggota pun bertambah.11

Kesimpulan

Seluruh keberadaan kepimpinan jemaat: karakter, kepribadian maupun pelayanannya serta upaya memperlengkapi seluruh orang percaya tidak terlepas dari spiritualitas. Bahkan semuanya itu merupakan perwujudan spiritualitas. Dengan demikian dalam spiritualitas kepemimpinan jemaat hanya dikenal motto: Kristus untuk semua, dan semua untuk Kristus.

Disampaikan di STT Abdiel Ungaran, 17 Januari 2007

1 Michael Downey, Current Trends Understanding Christian Spirituality: Dress Rehearsal for a Method, dalam http: //www.spiritualitytoday.org/

2 Ibid.

3 D. James Kennedy dan Jerry Newcombe, bagaimana Jika Alkitab Tidak Pernah Ditulis? 16

4 A.B. Susanto. Meneladani Jejak Yesus Sebagai Pemimpin: Implementasi Perilaku Yesus dalam Kehidupan Sehari-hari, xiii

5 D. James Kennedy, Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir? 14.


5 D. James Kennedy, Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir? 14.

6 Stephen Tong, Kerajaan Allah, Gereja an Pelayanan, 37-40

7 Henri J.M. Nouwen, Yang Terluka Yang Menyembuhkan, 40

8 Ibid., 47


9 John Stott, Satu Umat: Menuntun Gereja Menjadi Komunitas Yang Melayani, 94-96

10 Ibid., 57-58

11 Darrel W. Robinson, Kehidupan Gereja yang Utuh, 157.



Kamis, 13 Desember 2007

DEFINISI KEPEMIMPINAN






Definisi Kepemimpinan

Apakah kepemimpinan itu? Pelbagai definisi telah disusun oleh banyak ahli, namun pada umumnya hanya terbagi menjadi 2 (dua) bagian saja, yaitu yang memandang kepemimpinan sebagai PROSES dan kepemimpinan sebagai SENI.

1. Kepemimpinan sebagai PROSES

(a) Kepemimpinan adalah “suatu proses yang kompleks dimana seseorang mempengaruhi orang-orang lain untuk menunaikan suatu misi, tugas, atau tujuan dan mengarahkan organisasi yang membuatnya lebih kohesif dan koheren." Mereka yang memegang jabatan sebagai pemimpin menerapkan seluruh atribut kepemimpinannya (keyakinan, nilai-nilai, etika, karakter, pengetahuan, dan ketrampilan). Jadi seorang pemimpin berbeda dari majikan, dan berbeda dari manajer. Seorang pemimpin menjadikan orang-orang ingin mencapai tujuan dan sasaran yang tinggi, sedangkan seorang majikan menyuruh orang-orang untuk menunaikan suatu tugas atau mencapai tujuan. Seorang pemimpin melakukan hal-hal yang benar, sedangkan seorang manajer melakukan hal-hal dengan benar (Leaders do right things, managers do everything right).

(b) Kepemimpinan adalah "suatu proses terencana yang dinamis melalui suatu periode waktu dalam situasi yang di dalamnya pemimpin menggunakan perilaku (pola/gaya) kepemimpinan yang khusus dan sarana serta prasarana kepemimpinan (sumber-sumber) untuk memimpin (menggerakkan/mempengaruhi) bawahan (pengikut-pengikut) guna melaksanakan tugas/ pekerjaan (menyelesaikan tugas) ke arah (dalam upaya pencapaian) tujuan yang menguntungkan (membawa keuntungan timbal balik) bagi pemimpin dan bawahan serta lingkungan sosial di mana mereka ada/hidup.” Definisi ini dikemukakan oleh J. Robert Clinton dalam bukunya, The Making of A Leader dan dimodifikasi oleh Y. Tomatala, dalam bukunya, Kepemimpinan Yang Dinamis.

2. Kepemimpinan sebagai SENI

(a) Kepemimpinan ialah "seni bekerja (tahu, mau, dan aktif bekerja) bersama dan melalui orang lain."

(b) Kepemimpinan ialah "seni pemenuhan kebutuhan orang yang dipimpin dalam melaksanakan pekerjaan mencapai tujuan bersama.”

(c) Kepemimpinan ialah "seni penggalangan yang diwujudkan melalui kemampuan memadukan gagasan, orang, benda, waktu, dan iman, untuk (melaksanakan pekerjaan/tugas) mencapai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya."

(d) Kepemimpinan ialah "seni mempengaruhi dan menggerakkan orang untuk bekerja secara terkoordinasi di mana setiap orang tergerak mengerjakan pekerjaannya serta menyelesaikan tugasnya dengan baik berdasarkan program yang telah dicanangkan dalam kinerja keorganisasian secara menyeluruh."

(e) Kepemimpinan ialah "seni merangkum dan menyampaikan perintah, yang olehnya orang yang dipimpin tergerak dan bergerak melaksanakan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya."

(f) Kepemimpinan ialah "seni membuat peta keinginan tentang masa depan organisasi, dan kemampuan menerjemahkan peta tersebut menjadi suatu kerangka keinginan yang nyata, serta kekuatan atau kuasa menggunakan segala sumber untuk melaksanakan peta tersebut menjadi produk yang berdaya-guna.

(g) Kepemimpinan ialah "seni mendaya-gunakan sumber-sumber daya: manusia, alam, teknologi, infrastruktur, dan sebagainya dalam upaya mempertahankan optimalisasi kerja yang tinggi sehingga menciptakan hasil yang bernilai lebih yang semakin besar yang membawa sukses kerja dalam organisasi.


MUNCULNYA PEMIMPIN


Teori Munculnya Pemimpin

Bagaimana seseorang bisa menjadi pemimpin? Berikut ini adalah beberapa teori tentang munculnya seorang pemimpin:

(1) Teori Genesis (Trait Theory) - Leaders are born, not made. Seseorang bisa menjadi pemimpin karena kelahirannya. Sejak ia lahir, bahkan sejak ia di dalam kandungan, ia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Pelbagai pengalaman dalam hidupnya akan semakin melengkapinya untuk menjadi pemimpin di kemudian hari. Teori ini ada benarnya, terutama dalam tokoh-tokoh Alkitab. Yeremia misalnya, adalah seorang pemimpin (sebagai nabi) yang sejak dalam kandungan telah dipanggil, ditetapkan, dan dikuduskan oleh Allah sendiri (Yer. 1:4-5).

(2) Teori Transformasi (Transformational Theory) - Leaders are made, not born. Seseorang bisa menjadi pemimpin karena pembentukan. Jika ia memiliki keinginan yang kuat, sekalipun ia tidak dilahirkan sebagai pemimpin, ia bisa menjadi seorang pemimpin yang efektif. Pemimpin yang baik mengembangkan dirinya melalui proses tiada henti baik dalam belajar mandiri, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Teori ini juga ada benarnya. Perhatikan bagaimana Simon Petrus, seorang nelayan sederhana, dibentuk oleh Tuhan Yesus sedemikian rupa sehingga dapat menjadi seorang rasul yang pengaruhnya luar biasa. Yesus menyatakan kepada Simon Petrus dan murid-murid-Nya yang lain, "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Mat. 4:19).

(3) Teori Keturunan - Leaders are the successors of his father. Seseorang bisa menjadi pemimpin karena mewarisi posisi atau jabatan kepemimpinan dari orang tuanya. Teori ini hanya berlaku dalam zaman dinasti kekaisaran atau kerajaan. Contohnya adalah daftar raja-raja Kerajaan Yehuda seluruhnya merupakan keturunan dari Raja Daud. Kadang-kadang yang bersangkutan tidak memenuhi syarat untuk bisa menjadi pemimpin, tetapi karena ketentuan dinasti itulah, maka ia tetap bisa menjadi pemimpin. Tidak heran jika kemudian timbul pelbagai masalah akibat ketidak-mampuan tersebut.

(4) Teori Kesempatan - Leaders are the people who taking a chance. Seseorang bisa menjadi pemimpin hanya apabila kepadanya diberi kesempatan atau peluang untuk menjadi pemimpin. Bakat-bakat kepemimpinan yang dimilikinya baru akan benar-benar muncul jika kepadanya diberi kesempatan untuk memimpin. Teori ini juga dapat dibenarkan dalam kerangka pemuridan dan pendelegasian. Ketika seorang pemimpin yang senior memberi kesempatan kepada yang yunior, di situlah "anak-anak rajawali" itu belajar terbang. Dengan dukungan yang baik dari para seniornya, maka lambat-laun ia bisa mengembangkan dirinya.

(5) Teori Darurat (Great Events Theory) - Leaders are people who taking control in an emergent situation. Seseorang bisa menjadi pemimpin ketika ia mampu secara spontan mengendalikan situasi darurat yang sedang terjadi. Teori ini juga dapat dibenarkan, dan sang pemimpin bisa terus menjalankan tugasnya hingga situasi kembali normal. Dalam situasi normal bisa saja ia kembali dipilih untuk memimpin atau digantikan orang lain.

Semua teori di atas dapat digunakan dalam pemunculan seorang pemimpin, tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Seseorang yang memang "ditakdirkan" sebagai pemimpin pun, jika tidak bersedia mengembangkan diri dalam pelbagai proses yang melengkapi dirinya, tidak akan bisa memimpin dengan baik. Musa adalah contoh yang baik. Ia harus menjalani proses "padang belantara" selama 40 tahun sebelum kemudian muncul sebagai pemimpin.

Tetapi semua bakat pemimpin itu tidak ada gunanya jika ia tidak diberi kesempatan untuk memimpin. Adanya kesempatan yang diberikan akan sangat menolong. Demikian pula dengan teori-teori lainnya.

Dalam dunia sekuler, seorang pemimpin yang dihormati adalah seorang pemimpin yang berkonsentrasi pada siapakah dia sebenarnya (keyakinan-keyakinan dan karakter), apa yang diketahuinya (pekerjaan, tugas-tugas, seluk-beluk manusia), dan apa yang dilakukannya (mengimplementasi, memotivasi, memberikan arahan).

Namun dalam kepemimpinan rohani hal-hal di atas belum cukup. Di atas segalanya ia harus berkonsentrasi kepada panggilan dan kehendak Allah yang telah memilih dan menetapkannya sebagai pemimpin. Rasul Paulus berkata bahwa terhadap visi atau tujuan yang ditetapkan Allah baginya, ia harus menaatinya (Kisah 26:19).


Selasa, 30 Oktober 2007

TEAM BUILDING


1. Pendahuluan

Gereja atau jemaat di mana kita melayani digambarkan sebagai Tubuh Kristus. Gambaran ini akan mudah dimengerti karena memiliki keserupaan dengan tubuh kita. Di dalamnya ada banyak anggota yang masing-masing menjalankan fungsinya. Untuk diperlukan kerjasama yang baik yang dikoordinasi oleh otak kita. Demikian halnya dengan pelayanan dalam Tubuh Kristus, yaitu pelayanan yang hanya dapat dilakukan dalam bentuk kerja sama tim.

Artikel singkat ini disusun untuk menjelaskan tentang makna pelayanan team, contoh-contohnya dalam Alkitab, beberapa karakteristik pelayanan tim, dan bagaimana membangun suatu tim pelayanan

2. Sisi Positif Pelayanan Team

Pelayanan dalam sebuah team mempunyai beberapa sisi positif, antara lain:

(a) terjadinya check and balance – dimana terjadi adanya saling kontrol dan saling melengkapi demi keseimbangan

(b) terbentuknya sinergi – yaitu terjadinya pelipatgandaan potensi dan kemampuan

(c) pengambilan keputusan yang solid – yang terjadi karena satu sama lain saling mendukung

(d) terjadinya interaksi sosial – sehingga satu sama lain dapat saling mengerti dan menerima

(e) kesinambungan pelayanan – yaitu saling menggantikan apabila ada yang berhalangan

(f) proses regenerasi – dimana yang senior bisa memberikan keteladanan bagi yang yunior

3. Sisi Negatif Pelayanan Team

Namun demikian, jika tidak ditangani dengan baik pelayanan team bisa me-nimbulkan sisi negatif, antara lain:

(a) munculnya birokrasi – yang bisa menghambat kelancaran pelayanan

(b) konflik dan perselisihan – yaitu apabila anggota team kurang dewasa dalam iman

4. Pelayanan Team dalam Alkitab

Dalam Alkitab terdapat beberapa contoh keberhasilan pelayanan yang dilakukan oleh sebuah team, antara lain:

(a) Nuh membangun bahtera bersama tim keluarganya (Kej. 6:13-22);

(b) Musa menggerakkan orang-orang Israel yang memiliki bakat dan talenta untuk membangun Kemah Pertemuan atau Tabernakel (Kel. 31:1-11);

(c) Nehemia yang dipakai Tuhan, sehingga bersama team-nya mampu mem-bangun kembali Tembok Yerusalem yang telah roboh;

(d) Zerubabel mampu membangun kembali Bait Suci bersama dengan orang-orang yang digerakkan Tuhan (Hagai 1:14);

(e) Yesus Kristus membangun team pelayanan yang dimulai dari 12 murid-Nya;

(f) Paulus juga membangun team pelayanan yang kuat seperti Epafras, Timotius, dll.

5. 12 Prinsip Dasar Pelayanan Team

Sebuah team pelayanan akan berhasil-guna dan berdaya-guna apabila dibangun dengan prinsip dasar dalam Filipi 2:1-4. Untuk penjabarannya, penulis mengutip dari buku karangan Bob Gordon dan David Fardouly, Master Builders: Developing Life and Leadership in the Body of Christ today :

(a) Keutamaan (excellence), semua anggota team pelayanan rindu memberi-kan yang terbaik bagi Tuhan.

(b) Komitmen (commitment), semua anggota team memiliki loyalitas yang baik bagi timnya.

(c) Kedewasaan (maturity), semua anggota tim bersikap dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan.

(d) Iman (faith), semua anggota teamyakin bahwa bersama Tuhan dapat melakukan pekerjaan besar.

(e) Komunikasi (communication), semua anggota team dapat saling ber-komunikasi dengan baik satu sama lain.

(f) Kerendahan hati (humility), semua anggota team menganggap yang lain lebih utama.

(g) Ketekunan (perseverance), semua anggota team mau bertekun dengan sabar, dan tidak mengharapkan segala sesuatu serba instant.

(h) Persekutuan (fellowship), semua anggota team terlibat aktif dalam persekutuan team.

(i) Visi (vision), semua anggota team mengerti visi dari team itu, dan menjadikan visi team sebagai visinya.

(j) Kepemimpinan (leadership), semua anggota team berada di bawah kepemimpinan yang efektif dan Alkitabiah.

(k) Disiplin (discipline), semua anggota team memiliki disiplin yang tinggi.

(l) Urapan (power/anointing), semua anggota team merindukan dan mem-peroleh pengurapan dari Tuhan dalam pelayanan.

6. Penutup

Kita harus berhenti dari mengerjakan segala sesuatu seorang diri secara single fighter. Kita harus melibatkan banyak orang dalam proyek pelayanan, karena dengan pelayanan team yang baik, hasil yang dicapai akan lebih maksimal.

----- 00000 -----

pdt. drs. petrus f. setiadarma, mdiv.